"Untuk Sesuatu ada Batasnya"

Duka merundung seketika angin berhembus..
Tak ada yang sanggup menafikkan kekuasaanNya.
Lirih gema di balik kalbu mencoba mencari padan
dengan dengungan akal yang tak kunjung paham.
Begitu malam tiba, 
aku akan berteman dengan ketiadaan raga.
Dan tangisan pilu perempuan kecil kita
 akan menjadi pengantar tidurku,
berharap di esok pagi, 
mimpi dan nyata berdamai, 
asa dan pasrah berpadu.
Hanya kenangan yang kau titipkan,
Untuk kuceritakan pada anak, cucu kita kelak.
Ibu mereka penuh cinta,
Nenek mereka adalah malaikat.
Hanya senyuman yang kau tinggalkan,
seakan berpesan "jangan menangis, cinta." 


Mataku bengkak. Sedari pagi, sejak mendengar kabar bahwa tante Syane jatuh dan tak sadarkan diri, hatiku gundah. Aku terus berharap teleponku berdering dan mendengar kabar tante Syane sudah siuman. Sebulan tinggal bersama mereka ketika aku berkunjung ke Jayapura, membuatku punya perasaan spesial, terlebih karena melihat dan merasakan kelembutan hatinya yang tak pernah terlihat marah dan selalu sabar dalam menghadapi semua orang di sekelilingnya. Setiap hari kami berangkat dan pulang kantor bersama, aku, tante Syane, dan om Ben. Perjalanan satu jam dari Waena ke Dok II, tempat tante Syane bekerja tidak pernah sepi. Kami selalu ramai berbincang tentang apa saja. Tante Syane selalu bercerita tentang apa saja. Tapi dia jauh dari kesan cerewet. Dia tahu kapan harus bicara, kapan harus mendengar.


Alih-alih menunggu telpon, aku tertidur karena mataku tak lagi sanggup menumpahkan airmata yang tak kunjung berhenti. Dalam tidur, hal yang tidak kuharapkan tapi terus kupikirkan masuk dalam mimpiku. Di hadapanku, Om Ben memberitahuku langsung, Tante Syane, istri yang amat ia sayangi telah diambil oleh Sang Pemilik. Masih dalam mimpiku, yang terasa sangat nyata, Om Ben menyampaikan kesannya tentang Tante Syane. Yang paling ku ingat om Ben bilang, tante Syane adalah orang yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali karena tante Syane memberikan semua cintanya untuk Om Ben tanpa menuntut apa-apa. Aku tak tahu pasti apakah benar perasaan ini yang dirasakan Om Ben di dunia nyata, tapi mimpi itu terasa sangat nyata.


Lamunanku terbang kembali pada suatu pagi di Jayapura, ketika aku, om Ben, tante Syane sedang menuju ke kantor. Suasana pagi itu tidak seperti biasanya. Diam, kaku, tegang. Tidak banyak yang kami bicarakan. Tante Syane pun lebih banyak diam. Aku yang tak tahu harus bersikap bagaimana ikut saja berdiam. Malam harinya, sepulang kantor aku dan tante Syane berbincang-bincang seperti biasanya, sedangkan Om Ben bermain gaplek di depan rumah. Kami melepas penat dengan bercengkrama. Lalu, tiba-tiba dengan polosnya tante Syane bercerita padaku sambil tertawa bahwa Tessa menasehatinya, "Mama bikin salah apa ka? makanya, mama jangan bikin papa marah.. papa tra mau bicara to?."  Ah, aku tahu kenapa pagi itu aku merasa aneh dalam perjalanan. Tapi yang sungguh tidak kusangka, tante Syane bercerita sambil tertawa. Tak ada rasa sungkan ataupun getir dalam nada ceritanya. Dia menertawakan kesalahannya yang aku tidak tahu apa. Dia pun tidak memarahi anaknya karena seakan mongoloknya, tidak juga terlihat dongkol pada suaminya karena tidak mengajaknya bicara, atau malu kepadaku. Aku sungguh melihat cinta yang tak terbatas yang terwujud dalam ketulusan, keluguan, dan apa adanya ia. 

Aku menangis lagi.


Memoriku kembali ke belasan tahun lalu, ketika keluargaku masih di Jayapura. Selain papaku, 3 orang adik papaku juga tinggal di Jayapura (Om Ben, Tante Maya dan Om Ben). Om Rudi tinggal bersama kami, sedangkan Om Ben tinggal bersama tante Maya, Om Willy, Andre dan Brenda. Semasa berpacaran dengan tante Syane, jarak sejauh apapun terasa dekat. Om Ben yang tinggal dengan tante Maya di Pasir II, bisa menempuh berpuluh-puluh kilometer dengan naik angkutan umum untuk bertandang ke rumah tante Syane yang ada di Waena, Perumnas 3. Pengakuan ini keluar dari mulut om Ben langsung ketika kami sedang makan siang sembari menunggu tante Syane tugas majelis, september yang lalu. Masih menurut cerita Om Ben, pada jaman itu Jayapura belum seramai saat ini. Jalanan masih sepi dan rawan. Namun, "demi cinta..." katanya sambil tertawa, berjalan kaki pun ia rela karena kehabisan angkutan umum. Keluarga besar kami dulu senang sekali piknik pada hari Minggu. Semua tempat wisata di Jayapura telah kami jelajahi, dan sejak saat itu tante Syane sudah menjadi bagian dari kami. Aku masih ingat foto Tante Syane dengan kacamata besarnya, duduk di batu kali Kamwolker, sambil tersenyum malu-malu. Manis sekali. Senyumnya khas: lembut. 


Akhirnya om Ben dan tante Syane menikah pada tahun 1993, dan kami semua senang sekali. Aku dan saudara-saudara kecilku berjejer untuk mengiring mereka ke pelaminan. Om Ben dan tante Syane sangat suka dengan anak kecil, dan kami semua selalu dimanjakan oleh mereka. Tentulah kami tidak boleh tidak berjejer dalam barisan, lengkap dengan gaun dan jas. Setelah mereka menikah, kabar yang kami tunggu adalah kedatangan adik sepupu untuk kami jadikan boneka kecil kami bersama. Tapi ternyata, Tuhan menitipkan anak kepada mereka dengan cara yang berbeda. Saat itu usiaku masih terlalu kecil untuk mengingat mengapa tante Syane harus kehilangan 7 buah janin, 2 di antaranya sudah menjadi bayi berumur 6 bulan dan 8 bulan (akhirnya belakangan aku baru tahu dari om Ben bahwa penyebabnya adalah hipertensi). Aku ingat salah satu nama sepupu kecil kami, yang kubaca di batu nisan, Filma Saroinsong. Yang kuingat, Tante Syane dan Om Ben tidak terlihat kehilangan harapan atau merutuk kepada Tuhan. Mereka tetap menyayangi kami. Hingga akhirnya, mereka mengambil satu demi satu anak dari sebuah kampung di Minahasa, dengan perantara keluarga kami. Anak-anak yang memang telah disiapkan Tuhan untuk dititipkan kepada mereka. Yang pertama, Niel Boboho (14 tahun) dan beberapa tahun kemudian Anna Tessalonika (10 tahun). Tante Syane dan Om Ben merawat mereka sejak masih berusia 2 bulan. Kami senang boneka kecil kami datang juga. Kami senang sepupu kami bertambah. Terlebih, kami senang tante Syane dan Om Ben sudah punya buah hati. Aku sudah cukup yakin, cinta mereka tak terbatas pada anak sedarah. Namun demikian, tidak sedikitpun mereka berusaha menutupi kenyataan, baik dari kedua anaknya maupun dari orang lain, bahwa anak yang mereka kasihi adalah titipan Tuhan untuk mereka yang dilahirkan melalui pasangan lain. Mereka menjelaskannya sejak kecil kepada anak-anak mereka, tanpa pernah mengecilkan ayah-ibu kandung kedua anak ini. Bahkan dengan telingaku sendiri aku dengar kalimat ini keluar dari mulut tante Syane ditujukan kepada Tessa, "mama kandungnya Tessa sayang sekali sama Tessa makanya mama kandungnya Tessa kasih Tessa ke mama untuk dijaga, dikasih sekolah, dikasih makan yang baik, dibelikan baju yang bagus, disayang, dibesarkan, karena kakaknya Tessa masih kecil-kecil sedangkan uang mama kandungnya Tessa sudah tidak cukup lagi untuk beli susu." Ah, besar sekali hatinya. Seperti ruang tak berbatas.

Aku masih tak bisa berhenti menangis... 


Sore itu, ketika kabar baik yang kuharap belum kunjung datang, aku semakin dirundung gelisah karena mimpiku. Aku mencoba menulis pesan untuk ku kirim kepada Om Ben sekadar berbagi kekuatan, mungkin juga kesedihan. Tapi aku sulit menemukan kalimat yang tepat. Pasti untuknya, ini semua teramat berat. Tak ada hentinya cobaan yang harus ia terima. Akhirnya, aku mengirim pesan "Om Ben, Irma cuma bisa bantu doa supaya tante Syane cepat sadar dan pulih lagi. Tapi Irma tahu berdoa bukanlah untuk mengubah kehendak Tuhan atas kehidupan manusia, melainkan mengubah hati manusia agar dapat memahami kehendak Tuhan." Aku tak tahu mengapa, tapi aku seperti menemukan, bukan hanya kekuatan, tapi juga penyerahan. Om Ben membalas, "Terima kasih ir. Bagus sekali dukungannya." Aku bisa membayangkan wajah om Ben ketika menulis balasan itu. Aku tetap menunggu dan berharap sms yang membawa kabar baik.   

Mereka adalah keluarga bahagia. Tante Syane dan Om Ben bersinergi sedemikian rupa membangun kehidupan. Om Ben sebagai pekerja LSM dan berjiwa sosial yang sangat tinggi, tentu membutuhkan pendamping yang juga mendukung dan berempati. Dan Tante Syane adalah orangnya. Sudah ditakdirkan. Tante Syane pernah bekerja di sebuah lembaga donor LSM. Namun, karena jam kerja yang terlalu padat, ia keluar dan pindah ke Komisi Pemberantasan AIDS. Sedangkan Om Ben, sejak 25 tahun yang lalu sudah bekerja di sebuah LSM, Yayasan Kesehatan Bethesda yang bergerak dibidang pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS. Mereka kerap bertemu dalam berbagai kesempatan kerja sama lembaga, namun tidak mencari-cari kesempatan. Terlihat sekali mereka saling mengisi satu dengan yang lain. Mereka pasangan jiwa yang tak tergantikan. Aku sampai tak bisa lagi melihat om Ben tanpa melihat Tante Syane, atau sebaliknya. Jadi, tidak sulit membayangkan isi hati Om Benn ketika harus berhadapan dengan kenyataan pasangan jiwanya harus pulang duluan ke kehidupan yang tak terbatas di 'sana'.


Ternyata, memang kabar 'baik' yang aku terima. Tesa, sepupu kecilku yang cantik, mengirimkan sebaris sms pendek namun seperti lengkingan ketika dibaca "k irma, mamaaaaaaaa." Lalu dilanjutkan dengan sebuah sms yang sedikit lebih panjang namun seperti buangan nafas saja "mama sudah dipanggil Tuhan Yesus." Membaca sms yang dikirim oleh seorang anak umur 10 tahun tentang kehilangan ibunya membuat keran airmata ini seakan terlepas dan tak bisa dikendalikan. Hatiku pilu membayangkan Tesa, Niel dan Om Ben yang selama ini tidur sekamar dan seranjang dengan tante Syane harus merasakan kehilangan yang teramat tiba-tiba. Kami yang hanya merasakan sentuhan kasihnya 'setengah' saja merasa sangat kehilangan, bagaimana Om Ben, Tessa, Niel, yang merasakan seluruh diri dan kasihnya? Semua penghiburan rasanya tidak akan pernah cukup... Rencana indah macam apa di balik kehilangan istri dan ibu? Pelangi seindah apapun rasanya tak cukup layak menggantikan kehangatan kasih ibu. Aku tak bisa menahan rentetan pertanyaan 'mengapa dan mengapa' yang terus keluar dari kepalaku. Aku memaki diriku ketika aku menelpon om Ben dan hanya bisa terisak. Malah om Ben, entah mendapat kekuatan dari mana, berkata "sudah benar apa yang ngana bilang di sms tadi ir, torang nda bisa atur kehendak Tuhan, torang berdoa supaya Tuhan kasih kekuatan untuk menerima apa yang Tuhan so ator." Benarlah yang kuyakini, bahwa Tuhan memberikan cobaan kepada mereka yang ia percaya mampu menghadapinya. 


Akhirnya, keterbatasanlah yang menjadi penghiburanku. Hidup manusia memang berharga, namun ada batasnya. Tante Syane Antoinette Budiman yang memulai hidupnya 4 November 1963, hampir 50 tahun lalu, sampai pada batasnya, 17 Februari 2013. Ia yang memiliki kasih tak terbatas karena hatinya seluas samudera, sudah sampai di akhir perjalanannya. Raganya terbatas sampai di sini. Namun, kasihnya tak akan habis untuk dikenang, tak akan kurang untuk diceritakan. Kenangan kami akan cintanya pun tak terbatas... Selamat jalan, tante syane... sampai jumpa lagi di kehidupan yang tak berbatas.  



Tidak ada komentar: